|
|
Bahaya MSG
Kemajuan ilmu dan teknologi berkembang dengan pesat diberbagai
bidang, termasuk dalam bidang pangan, kemajuan teknologi ini membawa
dampak positif maupun negatif. Dampak positif teknologi tersebut mampu
meningkatkan kuantitas dan kualitas pangan, juga meningkatkan
diversivikasi, hygiene, sanitasi, praktis dan lebih ekonomis. Dampak
negatif kemajuan teknologi tersebut ternyata cukup besar bagi kesehatan
konsumen dengan adanya penggunaan zat aditif yang berbahaya. Zat aditif
adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan kesegaran
produk tersebut.

Dari berbagai senyawa pembangkit citarasa yang beredar bebas di
pasaran seperti misalnya MSG, 5 nukleotida, maltol (soft drink), dioctyl
sodium sulfosuccinate (untuk susu kaleng) dan lain sebagainya, ternyata
hanya monosodium glutamat (MSG) yang banyak menimbulkan kontroversi
antara produsen dan konsumen (Winarno 2004). Namun sejauh ini, belum
banyak penelitian langsung terhadap manusia. Hasil dari penelitian dari
hewan, memang diupayakan untuk dicoba pada manusia. Tetapi
hasil-hasilnya masih bervariasi. Sebagian menunjukkan efek negatif MSG
seperti pada hewan, tetapi sebagian juga tidak berhasil membuktikan.
Yang sudah cukup jelas adalah efek ke terjadinya migren terutama pada
usia anak-anak dan remaja seperti laporan Jurnal Pediatric Neurology.
Memang disepakati bahwa usia anak-anak atau masa pertumbuhan lebih
sensitif terhadap efek MSG daripada kelompok dewasa. Sementara untuk
efek terjadinya kejang dan urtikaria (gatal-gatal dan bengkak di kulit
seperti pada kasus alergi makanan), masih belum bisa dibuktikan.
World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization
(FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan
terhadap kesehatan manusia dibagi dalam 3 katagori yaitu : 1) aspek
toksikologis, katagori residu bahan makanan yang dapat bersifat racun
terhadap organ-organ tubuh, 2) aspek mikrobiologis, mikroba dalam bahan
makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam saluran
pencernaan, 3) aspek imunopatologis, keberadaan residu yang dapat
menurunkan kekebalan tubuh. Dampak negatif zat aditif terhadap kesehatan
dapat secara langsung maupun tidak langsung, dalam jangka pendek maupun
jangka panjang.
Asam glutamat atau yang sering disebut dengan MSG (Monosodium Glutamat)
pada tahun 1940, asam glutamat telah digunakan di berbagai macam jenis
produk makanan di berbagai negara, khususnya dalam kurun waktu 40 tahun
terakhir. Asam glutamat merupakan salah satu dari 20 asam amino yang
ditemukan pada protein dan MSG merupakan monomer dari asam glutamat. MSG
memberikan rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan, walaupun
masakan itu sebenarnya tidak memberikan rasa gurih yang berarti.
Penambahan MSG ini membuat masakan seperti daging, sayur, sup berasa
lebih nikmat dan gurih.
MSG dijual dalam berbagai bentuk produk dan kemasan, produk penyedap
rasa seperti Ajinomoto atau Royco mengandung MSG sebagai salah satu
bahan penyedap rasa. Produk makanan siap saji, makanan beku maupun
makanan kaleng juga mengandung MSG dalam jumlah yang cukup besar. Selain
lada dan garam, botol berlabel penyedap rasa yang mengandung MSG juga
dapat dengan mudah ditemukan di rak bumbu dapur maupun di atas meja
restoran. Umumnya, Restoran Cina banyak menggunakan MSG untuk
menyedapkan masakan-masakannya.
Walaupun sebagian besar orang dapat mengkonsumsi MSG tanpa masalah,
beberapa orang memiliki alergi bila mengkonsumsi berlebihan yaitu gejala
seperti pening, mati rasa yang menjalar dari rahang sampai belakang
leher, sesak nafas dan keringat dingin. Secara umum, gejala-gejala ini
dikenal dengan nama sindrom restoran cina.
Asam glutamat dan gamma-asam aminobutrat mempengaruhi transmisi
signal didalam otak. Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam
otak, sementara gamma-asam aminobutrat menurunkannya. Oleh karenanya,
mengkonsumsi MSG berlebihan pada beberapa individu dapat merusak
kesetimbangan antara peningkatan dan penurunan transmisi signal dalam
otak.
Sejarah
Monosodium Glutamate (MSG) mulai terkenal tahun 1960-an, tetapi
sebenarnya memiliki sejarah panjang. Selama berabad-abad orang Jepang
mampu menyajikan masakan yang sangat lezat. Rahasianya adalah penggunaan
sejenis rumput laut bernama Laminaria japonica. Pada tahun 1908,
Kikunae Ikeda, seorang profesor di Universitas Tokyo, menemukan kunci
kelezatan itu pada kandungan asam glutamat. Penemuan ini melengkapi 4
jenis rasa sebelumnya – asam, manis, asin dan pahit – dengan umami (dari
akar kata umai yang dalam bahasa Jepang berarti lezat). Sebelumnya di Jerman pada tahun 1866, Ritthausen juga berhasil
mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya menjadi dalam bentuk
monosodium glutamate (MSG), tetapi belum tahu kegunaannya sebagai
penyedap rasa.
Sekarang ini MSG digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As
Save) atau secara umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food
and Drugs Administration (FDA), atau badan pengawas makanan dan
obat-obatan (semacam Ditjen POM) di Amerika yang menyatakan MSG aman.
Tentu dalam batas konsumsi yang wajar.
MSG Pembangkit Citarasa
Asam glutamat merupakan bagian dari kerangka utama berbagai jenis
molekul protein yang terdapat dalam makanan dan secara alami terdapat
dalam jaringan tubuh manusia. Beberapa diantara asam glutamat tersebut
terdapat dalam bentuk bebas, artinya tidak terikat dengan asam – asam
amino lainnya, tetapi masih terdapat dalam makanan. Hanya dalam bentuk
bebas itulah asam glutamat mampu berfungsi sebagai senyawa pembangkit
citarasa makanan atau masakan. Glutamat bebas tersebut dapat bereaksi
dengan ion sodium (natrium) membentuk garam MSG (Winarno 2004).
MSG yang banyak dijual di toko-toko, diproduksi dalam skala komersial
melalui proses fermentasi dengan menggunakan bahan mentah pati, gula
bit, gula tebu, atau molases (tetes). Begitupun, menyadari tingginya
konsumsi MSG di wilayah Asia, WHO menggunakan MSG untuk program
fortifikasi vitamin A. Di Indonesia pernah dilakukan pada tahun 1996.
Juga, penggunaan MSG bisa menjadi salah satu pilihan dalam menurunkan
konsumsi garam (sodium) yang berhubungan dengan kejadian hipertensi
khususnya pada golongan manula. Hal ini karena untuk mencapai efek rasa
yang sama, MSG hanya mengandung 30% natrium dibanding garam.
Glutamat Di dalam Tubuh
Glutamat diproduksi di dalam tubuh manusia dan mempunyai peranan pentng
di dalam proses metabolisme. Secara alami glutamat ditemukan di otot,
otak, ginjal, hati dan organ-organ lainnya termasuk juga di dalam
jaringan. Selain itu, glutamat juga ditemukan pada air susu ibu (ASI)
dengan tingkat 10 kali lipat dari yang ditemukan di susu sapi (Anonimous
2006).Rata-rata setiap orang mengkonsumsi glutamat antara 10 sampai 20
gram dan 1 gram glutamat yang bebas dari makanan yang kita makan setiap
harinya.
Pada kebanyakan diet glutamat sangat cepat dimetabolis dan digunakan
sebagai sumber energi. Dari segi pandangan nutrisi, glutamat termasuk
non-essential amino acid, yang berarti bahwa tubuh kita dapat
memproduksi glutamate dari sumber protein yang lain, jika memang
diperlukan tubuh memproduksi sendiri glutamate untuk berbagai macam
kebutuhan essential (Anonimous 2006).
MSG dan Kesehatan Masyarakat
Pada tahun 1959, Food and Drug Administration di Amerika mengelompokkan
MSG sebagai ”generally recognized as safe” (GRAS), sehingga tidak perlu
aturan khusus. Kemudian pada tahun 1970 FDA menetapkan batas aman
konsumsi MSG 120 mg/kg berat badan/hari yang disetarakan dengan konsumsi
garam. Mengingat belum ada data pasti, saat itu ditetapkan pula tidak
boleh diberikan kepada bayi kurang dari 12 minggu (Anonimous 2003). Dari
penelitian yang telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun oleh para
scientis bahwa MSG aman untuk dikonsumsi, sejauh tidak berlebihan
termasuk pada wanita hamil dan menyusui.
Pada wanita hamil dan menyusui
Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila
kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar
normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara
intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat
badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak
dalam ASI.
Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO
(World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120
mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG
yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per
hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan
penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu (Anonimous 2001).
Efek Bahaya dari Penggunaan MSG :
A. Chinese Restaurant Syndrome
Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang
gejalanya cukup unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai
pusing-pusing. Pasien itu mengalami kondisi ini sehabis menyantap
masakan cina di restoran. Masakan cina memang dituding paling banyak
menggunakan MSG. Karena itulah gejala serupa yang dialami seseorang
sehabis menyantap banyak MSG disebut Chinese Restaurant Syndrome.
Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan
sampai saat ini. Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya
defisiensi vitamin B6 karena pembentukan alanin dari glutamat mengalami
hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2 – 12 gram MSG sekali makan
sudah bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak fatal betul
karena dalam 2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang.
B. Kerusakan Sel Jaringan Otak
Hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian
pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 – 4 mg
per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita
kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan
pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala
kerusakan otak.
Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam otak, gamma-asam
aminobutrat menurunkannya. Oleh karenanya, mengkonsumsi MSG berlebihan
pada beberapa individu dapat merusak kesetimbangan antara peningkatan
dan penurunan transmisi signal dalam otak (Anonimous 2006).
C. Kanker
MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut
pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan
dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. pirolisis ini sangat
karsinogenik. Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun,
bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu
tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein,
seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami
pirolisis dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.
D. Alergi
MSG tidak mempunyai potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat umum,
tetapi juga bahwa reaksi hypersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi
MSG memang dapat terjadi pada sebagian kecil sekali dari konsumen.
Beberapa peneliti bahkan cenderung berpendapat nampaknya glutamat bukan
merupakan senyawa penyebab yang efektif, tetapi besar kemungkinannya
gejala tersebut ditimbulkan oleh senyawa hasil metabolisme seperti
misalnya GABA (Gama Amino Butyric Acid), serotinin atau bahkan oleh
histamin (Winarno 2004). Thanks for reading
Older Post . Newer Post
Meet the OWNER..!
Hello Earthlings! im human just like you~
Basics:
Name: Leaf Green
Known as: Green Age: 10 years young
Stat: Park
Country: Indonesia
Fav. Colours: Green forever
Language: Indonesia and English
Hobby: blogging, Sleeping, Eating
Fav Quotes: It's so fluffy i'm gonna die!
Likes:
♥ leaf green
♥ Blogging
♥ SNSD
♥ Chocolates
♥ Ice Cream
♥ Galaxy Tabby
♥ Spongebob Squarepants
♥ Blink
♥ Sleeping
♥ Natural Beauty
Dislikes
✖ Anons, Haters, Copypasters
✖ Liars
✖ Snails and all animals that dont have backbones
✖ Make up
✖ High heels
 Bahaya MSG
Kemajuan ilmu dan teknologi berkembang dengan pesat diberbagai
bidang, termasuk dalam bidang pangan, kemajuan teknologi ini membawa
dampak positif maupun negatif. Dampak positif teknologi tersebut mampu
meningkatkan kuantitas dan kualitas pangan, juga meningkatkan
diversivikasi, hygiene, sanitasi, praktis dan lebih ekonomis. Dampak
negatif kemajuan teknologi tersebut ternyata cukup besar bagi kesehatan
konsumen dengan adanya penggunaan zat aditif yang berbahaya. Zat aditif
adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas, menambahkan rasa dan memantapkan kesegaran
produk tersebut.

Dari berbagai senyawa pembangkit citarasa yang beredar bebas di
pasaran seperti misalnya MSG, 5 nukleotida, maltol (soft drink), dioctyl
sodium sulfosuccinate (untuk susu kaleng) dan lain sebagainya, ternyata
hanya monosodium glutamat (MSG) yang banyak menimbulkan kontroversi
antara produsen dan konsumen (Winarno 2004). Namun sejauh ini, belum
banyak penelitian langsung terhadap manusia. Hasil dari penelitian dari
hewan, memang diupayakan untuk dicoba pada manusia. Tetapi
hasil-hasilnya masih bervariasi. Sebagian menunjukkan efek negatif MSG
seperti pada hewan, tetapi sebagian juga tidak berhasil membuktikan.
Yang sudah cukup jelas adalah efek ke terjadinya migren terutama pada
usia anak-anak dan remaja seperti laporan Jurnal Pediatric Neurology.
Memang disepakati bahwa usia anak-anak atau masa pertumbuhan lebih
sensitif terhadap efek MSG daripada kelompok dewasa. Sementara untuk
efek terjadinya kejang dan urtikaria (gatal-gatal dan bengkak di kulit
seperti pada kasus alergi makanan), masih belum bisa dibuktikan.
World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization
(FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan
terhadap kesehatan manusia dibagi dalam 3 katagori yaitu : 1) aspek
toksikologis, katagori residu bahan makanan yang dapat bersifat racun
terhadap organ-organ tubuh, 2) aspek mikrobiologis, mikroba dalam bahan
makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam saluran
pencernaan, 3) aspek imunopatologis, keberadaan residu yang dapat
menurunkan kekebalan tubuh. Dampak negatif zat aditif terhadap kesehatan
dapat secara langsung maupun tidak langsung, dalam jangka pendek maupun
jangka panjang.
Asam glutamat atau yang sering disebut dengan MSG (Monosodium Glutamat)
pada tahun 1940, asam glutamat telah digunakan di berbagai macam jenis
produk makanan di berbagai negara, khususnya dalam kurun waktu 40 tahun
terakhir. Asam glutamat merupakan salah satu dari 20 asam amino yang
ditemukan pada protein dan MSG merupakan monomer dari asam glutamat. MSG
memberikan rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan, walaupun
masakan itu sebenarnya tidak memberikan rasa gurih yang berarti.
Penambahan MSG ini membuat masakan seperti daging, sayur, sup berasa
lebih nikmat dan gurih.
MSG dijual dalam berbagai bentuk produk dan kemasan, produk penyedap
rasa seperti Ajinomoto atau Royco mengandung MSG sebagai salah satu
bahan penyedap rasa. Produk makanan siap saji, makanan beku maupun
makanan kaleng juga mengandung MSG dalam jumlah yang cukup besar. Selain
lada dan garam, botol berlabel penyedap rasa yang mengandung MSG juga
dapat dengan mudah ditemukan di rak bumbu dapur maupun di atas meja
restoran. Umumnya, Restoran Cina banyak menggunakan MSG untuk
menyedapkan masakan-masakannya.
Walaupun sebagian besar orang dapat mengkonsumsi MSG tanpa masalah,
beberapa orang memiliki alergi bila mengkonsumsi berlebihan yaitu gejala
seperti pening, mati rasa yang menjalar dari rahang sampai belakang
leher, sesak nafas dan keringat dingin. Secara umum, gejala-gejala ini
dikenal dengan nama sindrom restoran cina.
Asam glutamat dan gamma-asam aminobutrat mempengaruhi transmisi
signal didalam otak. Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam
otak, sementara gamma-asam aminobutrat menurunkannya. Oleh karenanya,
mengkonsumsi MSG berlebihan pada beberapa individu dapat merusak
kesetimbangan antara peningkatan dan penurunan transmisi signal dalam
otak.
Sejarah
Monosodium Glutamate (MSG) mulai terkenal tahun 1960-an, tetapi
sebenarnya memiliki sejarah panjang. Selama berabad-abad orang Jepang
mampu menyajikan masakan yang sangat lezat. Rahasianya adalah penggunaan
sejenis rumput laut bernama Laminaria japonica. Pada tahun 1908,
Kikunae Ikeda, seorang profesor di Universitas Tokyo, menemukan kunci
kelezatan itu pada kandungan asam glutamat. Penemuan ini melengkapi 4
jenis rasa sebelumnya – asam, manis, asin dan pahit – dengan umami (dari
akar kata umai yang dalam bahasa Jepang berarti lezat). Sebelumnya di Jerman pada tahun 1866, Ritthausen juga berhasil
mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya menjadi dalam bentuk
monosodium glutamate (MSG), tetapi belum tahu kegunaannya sebagai
penyedap rasa.
Sekarang ini MSG digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As
Save) atau secara umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food
and Drugs Administration (FDA), atau badan pengawas makanan dan
obat-obatan (semacam Ditjen POM) di Amerika yang menyatakan MSG aman.
Tentu dalam batas konsumsi yang wajar.
MSG Pembangkit Citarasa
Asam glutamat merupakan bagian dari kerangka utama berbagai jenis
molekul protein yang terdapat dalam makanan dan secara alami terdapat
dalam jaringan tubuh manusia. Beberapa diantara asam glutamat tersebut
terdapat dalam bentuk bebas, artinya tidak terikat dengan asam – asam
amino lainnya, tetapi masih terdapat dalam makanan. Hanya dalam bentuk
bebas itulah asam glutamat mampu berfungsi sebagai senyawa pembangkit
citarasa makanan atau masakan. Glutamat bebas tersebut dapat bereaksi
dengan ion sodium (natrium) membentuk garam MSG (Winarno 2004).
MSG yang banyak dijual di toko-toko, diproduksi dalam skala komersial
melalui proses fermentasi dengan menggunakan bahan mentah pati, gula
bit, gula tebu, atau molases (tetes). Begitupun, menyadari tingginya
konsumsi MSG di wilayah Asia, WHO menggunakan MSG untuk program
fortifikasi vitamin A. Di Indonesia pernah dilakukan pada tahun 1996.
Juga, penggunaan MSG bisa menjadi salah satu pilihan dalam menurunkan
konsumsi garam (sodium) yang berhubungan dengan kejadian hipertensi
khususnya pada golongan manula. Hal ini karena untuk mencapai efek rasa
yang sama, MSG hanya mengandung 30% natrium dibanding garam.
Glutamat Di dalam Tubuh
Glutamat diproduksi di dalam tubuh manusia dan mempunyai peranan pentng
di dalam proses metabolisme. Secara alami glutamat ditemukan di otot,
otak, ginjal, hati dan organ-organ lainnya termasuk juga di dalam
jaringan. Selain itu, glutamat juga ditemukan pada air susu ibu (ASI)
dengan tingkat 10 kali lipat dari yang ditemukan di susu sapi (Anonimous
2006).Rata-rata setiap orang mengkonsumsi glutamat antara 10 sampai 20
gram dan 1 gram glutamat yang bebas dari makanan yang kita makan setiap
harinya.
Pada kebanyakan diet glutamat sangat cepat dimetabolis dan digunakan
sebagai sumber energi. Dari segi pandangan nutrisi, glutamat termasuk
non-essential amino acid, yang berarti bahwa tubuh kita dapat
memproduksi glutamate dari sumber protein yang lain, jika memang
diperlukan tubuh memproduksi sendiri glutamate untuk berbagai macam
kebutuhan essential (Anonimous 2006).
MSG dan Kesehatan Masyarakat
Pada tahun 1959, Food and Drug Administration di Amerika mengelompokkan
MSG sebagai ”generally recognized as safe” (GRAS), sehingga tidak perlu
aturan khusus. Kemudian pada tahun 1970 FDA menetapkan batas aman
konsumsi MSG 120 mg/kg berat badan/hari yang disetarakan dengan konsumsi
garam. Mengingat belum ada data pasti, saat itu ditetapkan pula tidak
boleh diberikan kepada bayi kurang dari 12 minggu (Anonimous 2003). Dari
penelitian yang telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun oleh para
scientis bahwa MSG aman untuk dikonsumsi, sejauh tidak berlebihan
termasuk pada wanita hamil dan menyusui.
Pada wanita hamil dan menyusui
Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila
kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar
normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara
intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat
badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak
dalam ASI.
Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO
(World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120
mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG
yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per
hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan
penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu (Anonimous 2001).
Efek Bahaya dari Penggunaan MSG :
A. Chinese Restaurant Syndrome
Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang
gejalanya cukup unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai
pusing-pusing. Pasien itu mengalami kondisi ini sehabis menyantap
masakan cina di restoran. Masakan cina memang dituding paling banyak
menggunakan MSG. Karena itulah gejala serupa yang dialami seseorang
sehabis menyantap banyak MSG disebut Chinese Restaurant Syndrome.
Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan
sampai saat ini. Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya
defisiensi vitamin B6 karena pembentukan alanin dari glutamat mengalami
hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2 – 12 gram MSG sekali makan
sudah bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak fatal betul
karena dalam 2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang.
B. Kerusakan Sel Jaringan Otak
Hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian
pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 – 4 mg
per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita
kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan
pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala
kerusakan otak.
Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam otak, gamma-asam
aminobutrat menurunkannya. Oleh karenanya, mengkonsumsi MSG berlebihan
pada beberapa individu dapat merusak kesetimbangan antara peningkatan
dan penurunan transmisi signal dalam otak (Anonimous 2006).
C. Kanker
MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut
pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan
dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. pirolisis ini sangat
karsinogenik. Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun,
bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu
tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein,
seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami
pirolisis dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.
D. Alergi
MSG tidak mempunyai potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat umum,
tetapi juga bahwa reaksi hypersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi
MSG memang dapat terjadi pada sebagian kecil sekali dari konsumen.
Beberapa peneliti bahkan cenderung berpendapat nampaknya glutamat bukan
merupakan senyawa penyebab yang efektif, tetapi besar kemungkinannya
gejala tersebut ditimbulkan oleh senyawa hasil metabolisme seperti
misalnya GABA (Gama Amino Butyric Acid), serotinin atau bahkan oleh
histamin (Winarno 2004).
Older Post . Newer Post
|